Archive for February 2016
LAPORAN PERJALANAN TELUSUR JALUR RANGKASBITUNG – LABUHAN DI SEKITARAN SETASIUN PANDEGLANG
By : Bayu Dwi Otista
Minggu 7 Februari 2016, IRPS
wilayah Jakarta dari tim divisi sejarah (termasuk penulis) melaksanakan kegiatan eksplorasi
menulusuri jalur mati di ujung barat daerah operasional 1 Jakarta pada lintas
Rangkasbitung-Labuhan.
Kegiatan ini bertujuan untuk
mengenang kembali jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan yang dulu pernah
melintas sejauh sekitar 56 Km dan melihat kondisi sekarang terhadap lintas
tersebut yang rencananya tahun 2017 akan direaktifasi.
Dari Jakarta kami menggunakan
kereta api Rangkas Jaya yang berangkat dari stasiun Tanahabang pukul 8:00.
Kereta Api berhenti di stasiun Tigaraksa dan stasiun akhir Rangkasbitung dengan
harga yang disubsidi sebesar Rp. 5000,-.
Sampai di Stasiun Rangkasbitung
sekitar pukul 10 lebih beberapa menit kami naik angkot merah 01 menuju terminal Rangkasbitung. Dari terminal nyambung
kembali naik angkot biru nomer 02 menuju terminal Pandeglang. Sesampai di
Terminal Pandeglang dengan menggunakan peta jadul dan google maps untuk
membandingkannya, kami mencari jejak stasiun Pandeglang. Setelah menanya
beberapa orang ternyata stasiun Pandeglang terletak di pertigaan kadomas belok
kekiri. Untuk ke pertigaan kadomas tim naik ELF.
Tibalah sampai di stasiun Pandeglang.
Masih tampak terlihat corong air di kedua ujung emplasemen dan situasi emplasemen stasiun Pandeglang yang
memiliki 4 sepur walaupun peron dan beberapa rel tertimbun tanah.
Ketika memotret bagian bagian
stasiun tiba tiba air hujan turun dengan derasnya sehingga kami harus meneduh di
warung yang masih berada diatas rel emplasemen stasiun. Hujan mengguyur dengan
deras cukup lama, sembari menunggu hujan mereda tim mengobrol-ngobrol dengan
pemilik warung. Menurutnya memang sudah ada sosialisasi tentang pengaktifkan
kembali jalur ini dan warga pun dapat memahami dan menerimanya.
Setelah hujan mereda kami
beranjak pergi dan menyusuri jalan bekas rel kearah rangkasbitung dengan
berjalan kaki. Awalnya rel masih tampak jelas terlihat sampai wesel, setelahnya
beberapa terlihat dan sisanya tertutup ilalang-ilalang. Terus jalan ke arah
rangkasbitung mulai lebat dan pemandangan kanan kiri mirip kebon atau hutan kecil.
Kami berjalan kaki terus sampai
mentok tidak bisa jalan karena ada sungai kecil didepannya dan rel menggantung
disitu, sehingga harus mutar lagi dan turun kearah ke jalan raya, setelah
melewati sungai kecil tersebut baru melanjutkannya kembali menulusuri jalurnya.
Dengan ditemani hujan rintik
rintik kami masih terus berjalan di rimbunnya hutannya kecil di bekas jalur ke
arah rangkasbitung yang relnya kadang terlihat, kadang tidak. Dan semakin jalan
makin lebatlah sampai tidak bisa untuk dilalui lagi. Tapi terlihat ujungnya
sana ada jembatan yang lumayan panjang dan kami memutar kembali untuk mencari
jalan agar sampai ke jembatan tersebut. Menyusuri jalan setapak yang berlumut
dan licin karena hujan. Hampir sampai juga ke jembatan tersebut tapi masih
terlihat jauh akhirnya tim mencari jalan melewati pemakaman lama, jalanan petak
sawah akhirnya dapat mendekat jembatan tersebut.
Setelah mengambil gambar jembatan
kami memutuskan kembali ke stasiun Rangkasbitung untuk pulang karena hari hampir
sore. Melewati jalan yang dilalui sebelumnya sampai menemui jalan raya dan naik
angkutan umum yang sama seperti saat berangkat. Penelusuran selanjutnya nanti
kami akan melanjutkan ke saketi, menes sampai labuan.
nikmati perjalan vidionya dimari :
https://www.youtube.com/watch?v=DoHtfJh6oRw
https://www.youtube.com/watch?v=twyakwlW-FU
https://www.youtube.com/watch?v=MO98xXwYIVo
Silahkan dinikmati foto-fotonya :
Tag :
Heritage,
Urusan Sepur,

