artikel paling keren

Posted by : Bayu Dwi Otista Tuesday, 9 February 2016

Minggu 7 Februari 2016, IRPS wilayah Jakarta dari tim divisi sejarah (termasuk penulis) melaksanakan kegiatan eksplorasi menulusuri jalur mati di ujung barat daerah operasional 1 Jakarta pada lintas Rangkasbitung-Labuhan.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenang kembali jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan yang dulu pernah melintas sejauh sekitar 56 Km dan melihat kondisi sekarang terhadap lintas tersebut yang rencananya tahun 2017 akan direaktifasi.

Dari Jakarta kami menggunakan kereta api Rangkas Jaya yang berangkat dari stasiun Tanahabang pukul 8:00. Kereta Api berhenti di stasiun Tigaraksa dan stasiun akhir Rangkasbitung dengan harga yang disubsidi sebesar Rp. 5000,-.

Sampai di Stasiun Rangkasbitung sekitar pukul 10 lebih beberapa menit  kami naik angkot merah 01 menuju terminal Rangkasbitung. Dari terminal nyambung kembali naik angkot biru nomer 02 menuju terminal Pandeglang. Sesampai di Terminal Pandeglang dengan menggunakan peta jadul dan google maps untuk membandingkannya, kami mencari jejak stasiun Pandeglang. Setelah menanya beberapa orang ternyata stasiun Pandeglang terletak di pertigaan kadomas belok kekiri. Untuk ke pertigaan kadomas tim naik ELF.

Tibalah sampai di stasiun Pandeglang. Masih tampak terlihat corong air di kedua ujung emplasemen dan  situasi emplasemen stasiun Pandeglang yang memiliki 4 sepur walaupun peron dan beberapa rel tertimbun tanah.

Ketika memotret bagian bagian stasiun tiba tiba air hujan turun dengan derasnya sehingga kami harus meneduh di warung yang masih berada diatas rel emplasemen stasiun. Hujan mengguyur dengan deras cukup lama, sembari menunggu hujan mereda tim mengobrol-ngobrol dengan pemilik warung. Menurutnya memang sudah ada sosialisasi tentang pengaktifkan kembali jalur ini dan warga pun dapat memahami dan menerimanya.

Setelah hujan mereda kami beranjak pergi dan menyusuri jalan bekas rel kearah rangkasbitung dengan berjalan kaki. Awalnya rel masih tampak jelas terlihat sampai wesel, setelahnya beberapa terlihat dan sisanya tertutup ilalang-ilalang. Terus jalan ke arah rangkasbitung mulai lebat dan pemandangan kanan kiri mirip kebon atau hutan kecil.

Kami berjalan kaki terus sampai mentok tidak bisa jalan karena ada sungai kecil didepannya dan rel menggantung disitu, sehingga harus mutar lagi dan turun kearah ke jalan raya, setelah melewati sungai kecil tersebut baru melanjutkannya kembali menulusuri jalurnya.

Dengan ditemani hujan rintik rintik kami masih terus berjalan di rimbunnya hutannya kecil di bekas jalur ke arah rangkasbitung yang relnya kadang terlihat, kadang tidak. Dan semakin jalan makin lebatlah sampai tidak bisa untuk dilalui lagi. Tapi terlihat ujungnya sana ada jembatan yang lumayan panjang dan kami memutar kembali untuk mencari jalan agar sampai ke jembatan tersebut. Menyusuri jalan setapak yang berlumut dan licin karena hujan. Hampir sampai juga ke jembatan tersebut tapi masih terlihat jauh akhirnya tim mencari jalan melewati pemakaman lama, jalanan petak sawah akhirnya dapat mendekat jembatan tersebut.


Setelah mengambil gambar jembatan kami memutuskan kembali ke stasiun Rangkasbitung untuk pulang karena hari hampir sore. Melewati jalan yang dilalui sebelumnya sampai menemui jalan raya dan naik angkutan umum yang sama seperti saat berangkat. Penelusuran selanjutnya nanti kami akan melanjutkan ke saketi, menes sampai labuan.

nikmati perjalan vidionya dimari :
https://www.youtube.com/watch?v=DoHtfJh6oRw
https://www.youtube.com/watch?v=twyakwlW-FU
https://www.youtube.com/watch?v=MO98xXwYIVo

Silahkan dinikmati foto-fotonya : 








































{ 2 comments... read them below or Comment }

  1. semoga rencana pengaktifkan kembali jalur rangkas ke pandeglang atau mungkin sampai labuan segera terwujud tanpa hambatan yang berarti

    ReplyDelete
  2. Andenya direaktivasi, mdh"an sekalian di doble track plus LAA biar ada KRL disana.

    ReplyDelete

- Copyright © SOARA ORANG TAMBOEN - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -